Mencoba Menghargai Setiap Pertanyaan dan Siapa Yang Bertanya

26 Maret 2016

Mencoba Menghargai Setiap Pertanyaan dan Siapa Yang Bertanya

Mencoba Menghargai Setiap Pertanyaan dan Siapa Yang Bertanya
Atadruuna manis saail?
Kau tahu siapa yang tadi bertanya?

Jika ada seseorang bertanya dengan bahasa sederhana tapi berbobot, bukan hanya dia yang ingin tahu, tetapi agar orang lain disekitarnya juga mengetahuinya, maka atadruuna manis saail? kau tahu siapa yang tanya?

Al-Kisah, Syaikh Taqiyyuddin as-Subki dalam kitabnya "Thabaqotusy Syafiyyah al-Kubra" bercerita bahwa Imam al-Baidhawi mendatangi Majlis di Tibriz yang sedang menggelar ilmu. Si ulama menjelaskan panjang lebar beberapa masalah yang dianggap janggal oleh al-Baidhawi. beliau terdiam sejenak, lalu interupsi. "Maaf apa yang anda katakan dari pembahasan awal yang begini begini begini tadi kurang tepat, menurutku yang benar adalah begini begini begini berdasarkan dalil ini itu ini itu...." kata Imam al-Baidhawi... Namun, beliau mengemukakan dengan bahasa sopan yang ilmiah setelah si imam selesai ngajar.

"Siapa kamu, dan apa maumu?" kata si pengajar. "Aku adalah al-Baidhawi yang datang ke sini agar menjadi qadhi," jawab beliau. Begitulah, akhirnya beliau mendapatkan jabatan qadhi yang sebentar kemudian di tinggalkannya.

Atadruuna manis saail? Kau tahu siapa yang bertanya itu?
Jika ada pemberi materi, serampangan mengutip pendapat, tidak ilmiah dan mendasar dalil, lalu orang alim datang mendengarkan padahal terasa janggal dan dia sudah mencoba mengingatkan tetapi si ulama tadi membangkang bersikeras, maka pergilah orang alim itu.

Mencoba Menghargai Setiap Pertanyaan dan Siapa Yang Bertanya

Alkisah, Imam Ahmad bin Hambal dan Yahya Ibnu Ma'in sedang berada di salah satu majlis yang digelar pengajian hadis. Si pemateri bilang: Ahmad bin Hambal dan Ibnu Ma'in pernah meriwayatkan hadis begini begini. Lalu Imam Ahmad menolah kepada temannya dan bertanya, "Apakah kamu pernah meriwayatkannya? Aku belum pernah." Ibnu Ma'in menjawab, "Tidak juga."

Keduanya meminta pendapat dengan berkata, "Aku AHmad dan Ini adalah Ibnu Ma'in, kami tidak pernah meriwayatkan hadis itu." Dan apa jawaban si pemateri itu? "Emang Ahmad bin Hambal dan Yahya bin Ma'in hanya kalian doang?" dan dia tetap mengajarkan materi dengan PDnya (Ghoutsur Riq'ah Fi Ilmil Mustalah)...

Atadruuuna manis saail?
Jika ada yang bertanya, teliti dulu siapa yang tanya sebelum kau menjawabnya. Sebab?
Mal mas'uul 'anhu bi a'lama minas saaiil, belum tentu si tertanya lebih pandai dari yang bertanya....

# Mencoba menghargai setiap pertanyaan,
Nggo kopine di srutupppp

0 comments:

Posting Komentar test