Menanggapi Konsep Tentang Islam Nusantara.

29 Maret 2016

Menanggapi Konsep Tentang Islam Nusantara.

Menanggapi Konsep Tentang Islam Nusantara.
Oleh KH. Bukhori Masruri

Tentang adat istiadat orang NU yang kebanyakan menyerupai dengan adat istiadat orang hindu. dan bukankah : "Barang siapa menyerupai suatu kaum, maka mereka adalah bagian darinya" (Al-Hadis).
Maka sesungguhnya Nabi kita Muhammad SAW pernah menyerupai budaya orang yahudi. Ketika beliau melihat orang-orang yahudi berpuasa di tanggal 10 Muharram, maka beliau bertanya mengapa mereka berpuasa seperti itu? orang yahudi menjawab bahwa mereka sedang memperingati kemenangan Nabi Musa AS atas penjajahan raja fir'aun. Lalu Nabi Muhammad berkata : Kami lebih pantas untuk memperingatinya daripada kalian. Maka Rosulullah SAW pun menyuruh Umat Islam untuk berpuasa di tanggal 10 Muharram dan menyertai sehari sebelumnya agar berbeda dengan budaya yahudi tersebut. (Bukankah yang demikian ini juga cara Walisongo dalam berdakwah??)
Maka sesungguhnya hal pokok yang harus dimiliki dalam Islam itu ada 3 hal, sebagai berikut :
1. Tentang akidah dan keimanan semuanya harus sama. Akidah kita sebagai orang Islam jawa/Indonesia sama dengan akidah orang Islam diseluruh dunia. Rukun Iman dan Islam kita harus sama dan tidak boleh beda-beda.
2. Tentang Tasawuf yang menghasilkan akhlaq kita juga sama. Semua harus mengakui bahwa berbohong, berbuat dzalim kepada orang lain adalah sifat tercela. Harus mengakui bahwa jujur adalah sifat yang terpuji.
3. Tentang syari'at. maka ada 2 ketentuan.
- Jika dalilnya sudah pasti maka seluruh dunia harus sama. Contoh tentang jumlah rokaat dan cara melakukan sholat, tantang tatacara dan tempat pelaksanaan haji, dsb. Maka jika ada yang membuat buat atau yang merubah dalil qoth'i maka sudah pasti mereka bukan Islam.
- Jika dalilnya masih umum, bersifat kondisional/situasional, maka bisa berubah. Contoh pembagian harta gono gini. Contoh lain tentang acara halal bi halal.
Di arab saudi nggak ada tradisi halal bi halal. karena mereka segera meminta maaf jika berbuat salah (tidak usah menunggu hari raya). Jika kita menemukan bahwa orang arab gampang marahnya namun gampang pula redanya maka beda dengan orang indonesia yang kebanyakan sulit marahnya, namun jika disakiti sekali juga sulit memaafkanya.
Padahal kita tahu bahwa Rosulalloh SAW pernah bersabda ; "Orang yang paling merugi di akhirat adalah yang banyak amal ibadah, namun banyak pula tanggungan dosa terhadap sesama manusia. Sehingga pahala amal mereka habis digunakan untuk membayar hutang kedzaliman itu dan bahkan mereka harus menanggung beban dosa orang lain yang ia dzalimi manakala amal kebaikan mereka habis dipakai untuk "nyarutang".
Orang jawa khususnya itu, kadang punya prinsip : "Pitung turunan ojo pisan pisan nggepok wong iku, dadiyo godong moh nyawok, dadiyo banyu moh nyuwek

", padahal alasan bahwa "Man qooma romadhoona iimaanan wahtisaaban, ghufiro lahuu maa taqoddama min dzanbih" <= ini adalah dalil untuk dosa yang hubunganya kita sama Allah. Maka atas dasar mengamalkan hadis itu, dibuatlah tradisi "Halal bi Halal" di Indonesia, setelah ibadah di bulan Romadhon sebagai penyempurna tubuh kita agar bersih dari semua dosa-dosa. Maka inilah ISLAM NUSANTARA. Ketika mengetahui orang hindu kebanyakan di Jawa melakukan sesajen dan memperingati keluarga yang telah meninggal dengan Istilah 3hr, 7hr, 40hr, 100hr, pendak pisan, pendak pindo dst. maka para Ulama' jawa tidak lantas menghukumi mereka secara membabi buta dengan kalimat kasar dsb. Para ulama' memutar otak mencarikan solusi yang tepat dalam Islam. sesajen yang diberikan pada roh roh yang menurut mereka perlu, maka dialihkan pada shodaqoh pada sesama yang masih hidup agar lebih bermanfaat. Maka ketika shodaqoh pada hari hari seperti itu tidak dilarang, yang haram dan dilarang adalah ketika mengharuskan tepat di waktu itu sedang keadaan keuangan misalkan sedang tidak memungkinkan. Maka inilah ISLAM NUSANTARA. Ketika kita masuk dalam masjid ada kesunahan segera menjalankan sholat tahiyatal masjid dan mengikuti jama'ah sholat. Sedang ada pula perintah untuk berjabat tangan dengan sesama muslim agar dosa dari keduanya diampuni Alloh SWT. Maka dalam menghadapi 2 perintah ini dilakukanlah sholat dulu baru kemudian berjabat tangan. Maka inilah ISLAM NUSANTARA. Rosulullah SAW setiap selesai sholat selalu membaca wirid wirid tertentu, sehingga para shohabat yang meriwayatkan hadis bisa menyampaikan beberapa dari do'a/wiridnya Rosulullah SAW. Ketika para sahabat bisa mendengarkan dan meriwayatkan hadis seperti itu maka tentu Rosulullah SAW dalam membaca wiridnya secara jahr (sekeras jamaah yang ada saat itu). Bahkan diriwayatkan dalam sebuah hadis dalam shohih bukhori bahwa Ibnu Abbas RA ketika beliau masih kecil dapat mendengar suara wiridnya Rosulullah dari rumah, maka tentunya beliau membaca wirid setelah sholat secara keras pula.
Menanggapi Konsep Tentang Islam Nusantara.

untuk meniru wirid Rosulullah SAW seperti itu maka para kyai NU mengajak kita wirid secara jahr setiap selesai sholat.
Maka inilah ISLAM NUSANTARA.
Karena dalil umum dari perjuangan NU di tanah air adalah dengan prinsip : Tasamuh (Saling menghormati), Tawassuth (Pertengahan), Tawazun (seimbang/tidak berat sebelah), serta Amar Ma'ruf Nahi Mungkar (mengajak pada kebaikan dan mencegah kemungkaran).
Maka inilah ISLAM NUSANTARA.
Ketika Rasulullah SAW berdakwah di to'if lalu beliau dilempari batu hingga berdarah darah, malaikat Jibril tidak terima dan hendang memusnahkan mereka. Namun Rosulullah SAW justeru menjawab : Aku diutus bukan untuk melaknati, tapi aku diutus untuk memberi kasih sayang kepada seluruh alam. "Yaa Allah berikan hidayah pada umatku, sesungguhnya mereka tidak tahu"
Sunan kudus membuat menara di depan masjid yang menyerupai pura orang hindu lalu beliau membeli sapi yangbagus agar ditonton orang-orang hindu saat itu. Maka saat penduduk kudus mulai tertarik, dimasukanlah ajaran ajaran Islam di dalamnya.
Ringgen masjid Ki ageng selo maupun masjid agung demak yang juga menyerupai tempat ibadah orang hindu di bali, namun dengan pemahaman lain yakni simbol Iman, Islam dan Ihsan.
Maka inilah ISLAM NUSANTARA.
Rasulullah SAW menjelaskan bahwa jika ada suatu perkumpulan di dalamnya tidak ada sholawat kepada Nabi, maka "Abtar / tidak ada manfaatnya", setelah para ulama' NU tahu bahwa dalam pertemuan semisal kondangan, beluma atau sedikit sekali sholawatnya maka sebagai penutup perkumpulan dibacalah sholawat
Maka inilah ISLAM NUSANTARA.
Rosulullah SAW menyebutkan dalam sebuah hadis bahwa kita disuruh memperbanyak sholawat (Tanpa ada batasan jumlahnya). Ketika para ulama' NU melihat banyak orang tidak membaca sholawat di tiap malam, mereka berinisiatif mengajak keluarga membaca sholawat dengan menuruti waktu yang sekiranya paling memungkinkan dan jumlah yang tidak terlalu sedikit serta tidak terlalu banyak agar tidak memberatkan. Maka ketika dari anak-anak keluarga kyai tersebut berkembang pada cucu dan para tetangga mereka lalu yang ada yang mengusulkan agar tidak kehausan dibuatkan wedang, ditambahkanlah acara makan makan setelah kegiatan itu. Ketika rumah sang kyai mulai tidak muat lalu dipindah ke musholla atau masjid yang lebih besar.
Maka inilah ISLAM NUSANTARA.

Jadi intinya, banyak diantara amaliyah kita orang NU itu tidak dilakukan oleh orang-orang arab sana, karena memang banyak para ulama' NU di Nusantara dengan berbagai latar belakang dan kondisi masyarakat mengharuskan mereka mencari solusi yang terbaik yang bisa diterima oleh masyarakat sekitarnya.
Memang secara tersurat tidak ada dalilnya, namun munculnya tradisi seperti itu adalah hasil masakan para ulama' yang bersumber dari dalil qot'i. "Ojo nggolek tape utowo dadi klenyem, nug sawah. Mesti ora bakal ketemu, mergo ora ono tape sing tukul nug sawah. Onone nug sawah yo sapahe. Dudu klenyeme. Seng paling penting iku, klenyem utowo tapi olehe nggawe yo soko sapah”.
ISLAM NUSANTARA itu bukan Islamnya yang di cocokan dengan budaya nusantara, tapi budaya nusantara yang dicocokan dengan syareat agama Islam.

Kajian dalam acara Haul Alm. Almaghfur lah Si Mbah Kyai Kholil Thoyyib, Selo Tawangharjo. Komplek Makam Ki Ageng Selo, Sabtu malam Ahad, 15 Agustus 2015. Ba’da Isya’.

0 comments:

Posting Komentar test