Membaca Al Quran Dengan Langgam Jawa

26 Maret 2016

Membaca Al Quran Dengan Langgam Jawa

Al Quran dengan Irama Jawa.
(Khususon buat akhiina Si Pitung Masakini)

Dalam satu riwayat Imam Muslim, Umar ra pernah mendengar seorang sahabat membaca al Quran dengan "model" yang tidak sama dengan bacaan Umar bin Khattab ra.

Sampai beliau mengikat leher si pembaca dan melaporkannya kepada Nabi saw, lalu Nabi bertanya ada apa? Dan dijawab dia membaca begini padahal bacaan yang aku dengarkan darimu adalah begini ya Rasulallah saw.

Dengan bijak nabi bersabda: hakadzaa unzilal quraanu alaa sab'ati ahrufin... begitulah al Quran diturunkan dengan tujuh "gaya" hurufnya.. ini bukan tentang qiroah sab'ah.

As Suyuthi dalam al Itqonnya mengatakan bahwa hadis ini tentang sesuatu lain selain qiroah sab'ah... ada asumsi maksudnya adlah tujuh lahjah yang berbeda.. karena kaum badui tidak sefasih suku quraisy.. namun lahjah2 itu tidak sampai kepada kita.. az Zarqoni juga mengamininya dalam Manahilil Irfan...

Jangan2 ulama yang keras melarang langgam jawa itu semadzhab Umar bin Khattab yg selektif.. Dan ulama yg membolehkan itu senada deng ruh dakwah Nabi saw yg menyayangi dan menyadari ada lahjah lain di luar suku Quraisy... Padahal ini lahjah, bagaimana dengan hanya nighom...???

Ada satu hadis (sering dulu saya mendengar dr syaikhina, meskipun blm pernah sy telusuri lbh dalam) yg mengatakan man lam yataghonna bil quran fa laisa minnaa... ini multi tafsir.. apakah ghonna berarti membuat lagu? Atau tidak kaya karena al Quran? Patut didiskusikan...

Membaca Al Quran Dengan Langgam Jawa

Jika kita mengartikan taghanna adalah lagu dan sifatnya mutlak ta'alluqnya maka bukankah menuntut keumuman??? Misalnya: iqro', apa yg dibaca? Maka jawabannya apa pun... bagaimana lagunya?? Maka jawabannya.. bagaimana pun asal sesuai tajwid...

Wa 'alaa kulli haal, sifat arif dan bijaksana dg tidak membuat kontroversial dalam tindakan adalah lebih baik.. dalam al aadabusy syariyyah disebutkan bahwa laa yajuuzul khuruuju min adaatin naas illa bil haroom.. selama tradisi naghom qiroah adalah itu, maka tidak perlu menentang mainstream... kecuali jika masyarakat sudah siap untuk la yunkarul mukhtalaf fih, wa innama yunkarul mujmak alaih...

Alhasil, mbahase adem karo ngopiiii nggooo...

0 comments:

Posting Komentar test