Ijtihad Boleh Buka Sebelum Matahari Terbenam

28 Maret 2016

Ijtihad Boleh Buka Sebelum Matahari Terbenam

Fatwa Dr. Hasan Usama
(Boleh Buka Sebelum Matahari Terbenam)

Memang ini adalah masalah aktual yang harus segera ditindak dengan ijtihad baru... tidak bisa para ulama diam saja..

Jika di Inggris, waktu puasa sampai 19 jam misalnya... Atau di Belanda, waktu malam hanya 5 jam misalnya... Maka, apakah mengikuti matahari atau dengan hitungan hisab jam mengikuti daerah terdekat khatulistiwa?

sama dengan waktu berbuka di atas pesawat.. meminjam istilah pak Agus musthofa... jika pesawat super canggih itu bisa membalap kecepatan matahari, maka dimungkinkan seseorang berangkat sore hari dan akan tiba dilokasi pada waktu pagi hari... yang konsekuensinya, jika dia berjalan terus dan mengikuti fikih sub topris itu... maka selamanya dia tidak akan berbukaaa.... selamanya,,,,

namun keresahan pak Agus itu bisa mudah dijawab dg konsep bolehnya berbuka kepada si musafir... tp pertanyaannya, apakah dia harus qodho meskipun sdh puasa 24 jam di arloji yg dipakainya??? dan harus qodho hy karena berbuka yg diperbolehkan kepada musafir itu???

Ijtihad Boleh Buka Sebelum Matahari Terbenam

Ada satu hadis riwayat al Bukhori, bahwa kelak hari2 di masa Dajjal adalah sama dg setahun, sebulan, seminggu dan normal... sohabat bertanya: bagaimana kami solat??? Nabi saw.: perkirakan saja,,,
ini seperti suntikan besar dari Nabi saw agar para ulama berijtihad ttg problem waktu Dajjal jika kita setuju inilah era2 kemunculan Dajjal maknawi karena kecanggihan teknologi...
Atau tetap dg fatwa ulama salaf yg mengatakan bahwa barang siapa solat magrib lalu berangkat dg pesawat ke tpt sebelum matahari terbenam maka dia wajib solat lagi (ismidul ainain, bab waktu solat)

atau fatwa, barang siapa puasa dan bepergian ke daerah yg sudah hari raya, maka dia mengikuti penduduk itu... jika sudah 29 hari maka dia tdk wjb qodho dan cukup ikut mereka... sedang jk hy 28 hari, maka dia harus qodho sehari... karena Romadhon tdk ada 28 hari...

dari fatwa ini, berarti kondisi matahari yg menjadi pertimbangan... bukan kadar waktu hisab jam arlojinya... maka, problem waktu akan timbul lagi dan kita membiarkan orang2 berpuasa hampir 20 jam... lalu bagaimana dg kutub yg tdk bermatahari??? apa lantas tdk berpuasa??? krn selalu malam??
atau berpuasa dg melihat negara tetangga??? tetangga mana yg terbaik utk dijadikan panutan? tropis, sub tropis atau lainnya??

# problem ijtihad yg harus segera dijawab... mikir maneh...

0 comments:

Posting Komentar test