Bunda Mandikanlah Aku

26 Maret 2016

Bunda Mandikanlah Aku

----- :: Bunda, Mandikanlah Aku... ::-----

Rani, sebut saja begitu namanya. Kawan
SMA ku ini berotak cemerlang dan memiliki
idealisme yang tinggi. Sejak masuk kampus,
sikap dan konsep dirinya sudah jelas : meraih
yang terbaik, di bidang akademis maupun
profesi yang akan digelutinya. ''Why not the
best ?'' katanya selalu, mengutip seorang
mantan presiden Amerika.
Ketika Universitas mengirim mahasiswa untuk
studi Hukum Internasional di Universiteit
Utrecht, Belanda, Rani termasuk salah satunya.
Sedangkan saya, lebih memilih menuntaskan
pendidikan di pesantren. Selain itu, Rani juga
mendapat pendamping yang ''selevel''; sama-
sama berprestasi, meski berbeda profesi.
Alifya, buah cinta mereka, lahir ketika Rani
diangkat sebagai staff diplomat, bertepatan
dengan tuntasnya suami meraih gelar PhD.
Lengkaplah kebahagiaan mereka. Konon, nama
putera mereka itu diambil dari huruf pertama
hijaiyyah ''alif'' dan huruf terakhir ''ya'',
jadilah nama yang enak didengar : Alifya.
Saya tak sempat mengira, apakah mereka
bermaksud menjadikannya sebagai anak yang
pertama dan terakhir.
Ketika Alif (panggilan puteranya itu) berusia 6
bulan, kesibukan Rani semakin menggila. Bak
Garuda Indonesia, nyaris tiap hari ia terbang
dari satu kota ke kota lain, dan dari satu
negara ke negara lain.
Setulusnya, saya pernah bertanya kepadanya,
''Tidakkah si Alif terlalu kecil untuk ditinggal-
tinggal ?''
Dengan sigap, Rani menjawab, ''Oh, saya sudah
mengantisipasi segala sesuatunya. Everything is
OK !''
Ucapannya itu benar-benar ia buktikan.
Perawatan dan perhatian anaknya, ditangani
secara profesional oleh baby sitter mahal. Rani
tinggal mengontrol jadwal Alif lewat telepon.
Alif tumbuh menjadi anak yang tampak lincah,
cerdas dan gampang mengerti. Kakek Neneknya
selalu memompakan kebanggaan kepada cucu
semata wayang itu, tentang kehebatan ibu-
bapaknya. Tentang gelar dan nama besar,
tentang naik pesawat terbang dan uang yang
banyak.
 Bunda Mandikanlah Aku
''Contohlah ayah-bunda Alif, kalau Alif besar
nanti.'' Begitu selalu Nenek Alif, ibunya Rani,
berpesan di akhir dongeng menjelang tidurnya.
Ketika Alif berusia 3 tahun, Alif pernah
berkata kepada Rani kalau dia minta adik.
Terkejut dengan permintaan tak terduga itu,
Rani dan suaminya memberikan pengertian
kepada anaknya. Kesibukan mereka belum
memungkinkan untuk menghadirkan seorang
adik buat Alif. Lagi-lagi bocah kecil ini
''memahami'' orang tuanya. Buktinya, kata
Rani, Alif tak lagi merengek minta adik. Alif
tampaknya mewarisi karakter ibunya yang
bukan perengek. Meski kedua orangtuanya
kerap pulang larut malam, ia jarang sekali
ngambek. Bahkan, tutur Rani, Alif selalu
menyambut kedatangannya dengan penuh
ceria. Sehingga, Rani sering memanggil anaknya
itu dengan ''Malaikat kecilku''.

Sungguh keluarga yang bahagia, pikir saya.
Meski kedua orangtuanya super sibuk, Alif
tetap tumbuh penuh cinta. Diam-diam, saya iri
pada keluarga ini.
Suatu hari, menjelang Rani berangkat ke
kantor, entah mengapa Alif menolak
dimandikan baby sitter-nya. ''Alif ingin Bunda
yang mandikan,'' ujarnya penuh harap.
Karuan saja Rani, yang detik demi detik
waktunya sangat diperhitungkan, gusar. Ia
menampik permintaan Alif sambil tetap gesit
berdandan dan mempersiapkan keperluan
kantornya.
Suaminya pun turut membujuk Alif agar mau
mandi dengan Tante Mien, baby sitter-nya.
Lagi-lagi, Alif dengan pengertian menurut,
meski wajahnya cemberut. Peristiwa ini terus
berulang-ulang sampai hampir sepekan.
“Bunda, mandikan aku !” kian lama suara Alif
penuh tekanan. Toh, Rani dan suaminya
berpikir, mungkin itu karena Alif sedang dalam
masa pra-sekolah, jadinya agak lebih minta
perhatian. Setelah dibujuk-bujuk, akhirnya
Alif bisa ditinggal juga.

Sampai suatu sore, saya dikejutkan dengan
telponnya tante Mien, sang baby sitter. ''Mz Taufiq,
Alif demam dan kejang-kejang. Sekarang di
Emergency.''
Setengah terbang, saya ngebut ke UGD. But it
was too late. Allah SWT sudah mempunyai
rencana lain. Alif, si Malaikat Kecil, keburu
dipanggil pulang oleh-Nya. Sedangkan Rani,
ketika diberi tahu soal Alif, sedang meresmikan
kantor barunya. Ia shock berat. Setibanya di
rumah, satu-satunya yang ia ingin kerjakan
adalah memandikan putranya. Setelah sepekan
lalu Alif menuntut, Rani memang menyimpan
komitmen untuk suatu saat memandikan
anaknya sendiri.
Dan siang itu, janji Rani terwujud, meski
setelah tubuh si Malaikat Kecil terbaring kaku.
''Ini Bunda Lif, lihat, Bunda sedang mandikan
Alif,'' ucapnya lirih, di tengah jama’ah yang
sunyi. Satu persatu rekan Rani menyingkir dari
sampingnya, berusaha menyembunyikan tangis.
Ketika tanah merah telah mengubur jasad si
kecil, kami masih berdiri mematung di sisi
pusara. Berkali-kali Rani, sahabatku yang tegar
itu, berkata, ''Ini sudah takdir, ya kan ?
Sama saja, aku di sebelahnya ataupun di
seberang lautan, kalau sudah saatnya, ya dia
pergi juga kan ?'' Saya diam saja.
Rasanya Rani memang tak perlu hiburan dari
orang lain. Suaminya mematung seperti tak
bernyawa. Wajahnya pias, tatapannya kosong.
''Ini konsekuensi dari sebuah pilihan,'' lanjut
Rani, tetap mencoba tegar dan kuat. Hening
sejenak.
Angin senja meniupkan aroma bunga kamboja.
Tiba-tiba Rani berlutut. ''Aku ibunyaaa !''
serunya histeris, lantas tergugu hebat. Rasanya
baru kali ini saya menyaksikan Rani menangis,
lebih-lebih tangisan yang meledak. ''Bangunlah
Lif, Bunda mau mandikan Alif. Beri
kesempatan Bunda sekali saja Lif. Sekali saja,
Aliiif..'' Rani merintih mengiba-iba. Detik
berikutnya, ia menubruk pusara dan
tertelungkup di atasnya. Air matanya
membanjiri tanah merah yang menaungi jasad
Alif. Senja pun makin tua. Nasi sudah menjadi
bubur, sesal tidak lagi menolong.

Refleksi Hikmah :
Hal yang nampaknya sepele, sering kali
menimbulkan sesal dan kehilangan yang amat
sangat. Sering kali orang sibuk 'di luaran', asik
dengan dunia dan ambisinya sendiri. Sehingga,
mengabaikan orang-orang di dekatnya yang
disayanginya. Akan masih ada waktu 'nanti'
buat mereka, jadi abaikan saja dulu. Kadang
hal yang seperti inilah yang membuat banyak
orang menyesal.
Sering kali orang takabur dan merasa yakin
bahwa pengertian dan kasih sayang yang
diterimanya tidak akan hilang. Merasa mereka
akan mengerti karena mereka menyayanginya
dan tetap akan ada.
Sebelum semua terlambat, dan sebelum
semuanya menghilang dari hadapan kita.
Jangan pernah lupakan orang-orang terdekat
kita dan orang-orang yang kita sayangi.
Jangan sampai kita menyesal di kemudian hari,
karena orang-orang yang kita sayangi telah
hilang selamanya dari hadapan kita.(30 november 2014, gak bisa tdr keinget alifya)

0 comments:

Posting Komentar test